tadinya aku di awan sembilan
I supposed to wrote a post named " I was on Cloud Nine" but sadly laziness always attacking me.
Tapi pada kenyataannya sebelum aku sempat menceritakan kebahagiaanku, semuanya berubah. Tanggal 6 September itu adalah hari paling tidak aku percaya, karena aku sangat bahagia hari itu. Meski mungkin bagi dia itu adalah hari biasa.
Semua ini berawal dari hari wisuda tanggal 25 Agustus 2019, seperti yang aku sudah ceritakan di post sebelumnya aku memberikan setangkai bunga mawar merah pada dua orang yang pernah singgah di kehidupan ku. Tapi cerita ini, yang membuatku senang dan sedih dapat terjadi karena kaka tingkat ku yang memakai toga garis ungu, yaitu kaka tingkat ku yang anak psikologi.
Aku gugup setengah mati saat mau memberikan bunga itu pada anak psikologi ini, karena notabene aku tidak pernah berbincang-bincang dengannya. Kalau dengan si anak hukum yaa aku pernah dan aku pd aja saat aku kasih bunga itu. Setelah gelaran wisuda selesai dan orang-orang yang berkerumun itu berkurang, notif hp ku berbunyi. Anak psikologi itu ajak aku untuk foto, jadilah kita berfoto dan membuat boomerang. Lalu aku post di instagramku, semua orang riweuh mereply mengapa bisa boomerang itu terjadi.
Disini lah semuanya berlanjut, aku mencoba untuk membuka percakapan dengan mengirimkan foto yang diambil tadi ke ruang chat di line. Dan kau tahu ? setelah itu kami terus berkabar selama 1 Bulan lamanya. Dan hanya selang 11 hari dari chat itu aku dan dia sudah pergi bersama, meskipun kami tinggal di kota yang berbeda. Hari itu aku gemetar setengah mati, aku takut kami canggung dan tidak bisa berbincang-bincang. Tapi aku salah, ternyata dia sangat open dan kami berbincang tentang banyak hal. Oh ya, hari itu dia meminta antar untuk beli poster, dan setelah itu aku tidak tahu kami akan kemana. Tak terduga, setelahnya dia mengajak nonton, lalu makan, lalu minum kopi. Terdengarnya simpel tapi sungguh itu sangat sangat sangat luar biasa..
Hari itu fantasi ku terwujud, melihat orang yang aku kagumi menyetir mobil dari sudut pandangku, dan nonton film di samping orang yang aku kagumi. Sungguh aku sangat senang hari itu.
Aku tahu aku tidak boleh berekspektasi, tapi satu bulan itu merupakan bulan terbahagia selama hidupku menjadi seorang mahasiswi. Tetapi setelah sebulan terlewati mulai ada yang membuat ku berfikir keras, percakapan kami mulai berjalan lambat karena dia membalasku dengan jeda waktu yang cukup lama, paling lama itu 6 jam. Apa arti dari sebuah komunikasi apabila berjalan alot seperti ini? aku bukan menuntut tapi aku tahu dia tidak sibuk dan selalu bermain Ig nya karena aku melihat status onlinenya.
Semakin kesini dia semakin aneh, dan terjadi lah pesan ku tidak dibalas selama sehari, lalu tiga hari, lalu seminggu...
Setelah dia tidak membalas pesan ku selama tiga hari, kami bertemu di hari keempatnya. Dia sedang ada di Bandung hari itu, sangat mendadak. Kami pergi hanya sebentar, dia hanya ingin mengantar aku pulang saja katanya dan sekalian mampir ke rumah temannya. Hari itu aku sampai skip kelas padahal hari itu ada test toefl yang masih harus aku selesaikan. Dia membelikan ku mcd, katanya sebagai balasan karena aku sudah mengantarnya membeli sesuatu di rumah temannya.
Di minggu yang sama, pada hari sabtu dia tidak membalas pesan ku selama hampir seminggu. Aku sangat sangat gundah, dan berfikir apa yang aku lakukan sampai dia tidak membaca pesan ku? Dalam kurun satu bulan yang aku ceritakan diatas, saat topik habis dia pasti selalu greet aku pagi harinya. Tapi sekarang tidak, dia mulai berubah. Kau tahu? mimpi ku setiap harinya punya pemeran utama yang sama, yaitu dia. Aku sampai capek saat bangun tidur, terheran-heran mengapa sampai tiap hari begini.
Kegundahan ku sampailah pada hari kemarin, aku sudah tidak kuat lagi dengan rasa penasaran ini. Aku memberanikan diri untuk chat dia duluan untuk pertama kalinya, sekalian ngetest dia apakah dia benar2 berubah atau ini hanya fikiran negatif ku saja..
Aku greet dia saat maghrib kukirim panggilan singkat "Kang", karena aku tahu dia paling aktif dari dari sore ke malam, kami masih basa-basi sampai tengah malam, dan dibalasnya pagi hari jam 8 lalu aku balas lagi jam 9 pagi. Kau tahu jam berapa dia balas pesan ku lagi? jam 7.30 malam. Hampir 12 jam lamanya. Pada sore hari saja aku sudah punya kesimpulan sendiri, dia benar-benar berubah. Entah apa yang terjadi.
Hari ini kebetulan kedua orang tua ku dan kakak ku sedang pergi. Sore hari saat aku sadar bahwa dia berubah, aku benar-benar sedih se sedih2nya. Aku mendengarkan lagu-lagu kunto aji di album mantra, aku menangis sejadi-jadinya, bukan hanya silent cry biasa tapi aku sampai sesegukan. Tahu bahwa seisi rumah kosong hanya ada kucing ku saja, aku keluarkan semua kesedihan ku melalui tangis itu, aku memeluk bonekaku seakan mendapat kehangatan dari seorang manusia. Aku meminta maaf kepada diri ku sendiri, aku minta maaf karena aku berekspektasi meskipun aku tahu aku tidak boleh melakukan hal itu. Saat pertama kali aku terus-terusan mendapat pesan dari nya, aku sungguh sangat takut. Aku bertanya kepada semua temanku, apa yang aku harus lakukan karena aku takut semua ini hanya berujung semu. Saat menyadari pada akhirnya ketakutan itu benar-benar terjadi, rasa kecewaku sudah tak terbendung lagi. Air mata terus menghujani pipi ini, sampai aku rasa mataku bengkak.
Dengan tangan yang gemetar dan rasa sesak di dada aku mematikan notifikasi ku semenjak sore hari, aku mute chat dari nya. Aku sudah 100% yakin pasti dia hanya membalas singkat pesan ku yang sudah ku kirim dari jam 9 pagi itu. Benar saja, saat malam harinya aku cek line ku, dia membalas jam 8 malam hanya dengan satu bubble. Semua ini terjadi, semua ketakutanku terjadi. Dia pergi, dia berubah. Rasa penasarannya terhadapku sudah menghilang begitu saja..
Selama aku diberi kesempatan untuk mengenalnya selama satu bulan, aku terus memantau akun twitternya, creepy memang. Tapi bukankah ini yang dilakukan semua wanita diluar sana? Dia selalu berinteraksi dengan seorang wanita yang terlihat seperti mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama. Avatar nya sungguh memesona, tak jarang aku lihat tweet wanita itu terlihat insecure karena penampilan nya. Saat dia terlihat SANGAT CANTIK. Beauty privileges, I HATE THAT. Wanita itu tak tahu daya tarik dia walaupun dia tidak melakukan apapun. Maaf aku emosi, aku marah, maaf. Tidak sepatut nya aku begini. Mungkin mereka berdua mempunyai masa lalu bersama, mungkin. Atau malah masih bersama.
Hari ini 13 Oktober 2019, aku terbangun jam 6.30 pagi karena bisingnya bacotan ayahku mengenai pemerintahan negara ini. Hari ini pula merupakan hari ke 2 bulan merah datang, saat bangun aku menghela napas panjang, seraya membuka whatsapp dan membalas pesan dari teman-temanku yang teramat baik yang memberikan aku nasihat dan kata-kata positif. Lagi. Aku menitihkan air mata mengingat apa yang terjadi kemarin sore, sampai saat ini aku masih banyak melamun. Melamun memikirkan mengapa semua ini bisa terjadi kepadaku. Disaat yang tidak tepat. Tahun keempat di kuliah, harus mencari judul usulan penelitian, dan 3 minggu lagi uts semester 7. Maaf jika aku mendramatisir cerita ini, tapi memang begini adanya.
Entah dia menjauh karena dia sadar aku mulai baper, atau entah rasa penasarannya kepadaku sudah hilang. Aku ingat januari kemarin dia bertanya kepada kaka tingkat ku, dia bertanya aku ini orang nya seperti apa. Lihatkan? aku mencoba menyambungkan titik-titik itu, berasumsi sampai kepalaku mau pecah.
Ada beberapa hal yang aku harap dia lakukan. Aku harap dia mengucapkann selamat tinggal, dan tidak bersikap tiba-tiba dingin. Aku harap dia mengatakan perasaannya kepadaku entah itu akan menyakitiku atau akan membuatku senang.
Dan harapan untukku, aku harap aku bisa bangun lagi lebih kuat dari hari kemarin, aku harap aku berpegang teguh pada prinsipku. Aku harap aku ingat bahwa aku berada di tingkat akhir yang harus pandai-pandai menjaga hatiku sendiri.
Yang terakhir, aku belum bisa yakin jika aku bisa menolak dia jika suatu hari dia membuka pintu itu lagi.
Hari itu fantasi ku terwujud, melihat orang yang aku kagumi menyetir mobil dari sudut pandangku, dan nonton film di samping orang yang aku kagumi. Sungguh aku sangat senang hari itu.
Aku tahu aku tidak boleh berekspektasi, tapi satu bulan itu merupakan bulan terbahagia selama hidupku menjadi seorang mahasiswi. Tetapi setelah sebulan terlewati mulai ada yang membuat ku berfikir keras, percakapan kami mulai berjalan lambat karena dia membalasku dengan jeda waktu yang cukup lama, paling lama itu 6 jam. Apa arti dari sebuah komunikasi apabila berjalan alot seperti ini? aku bukan menuntut tapi aku tahu dia tidak sibuk dan selalu bermain Ig nya karena aku melihat status onlinenya.
Semakin kesini dia semakin aneh, dan terjadi lah pesan ku tidak dibalas selama sehari, lalu tiga hari, lalu seminggu...
Setelah dia tidak membalas pesan ku selama tiga hari, kami bertemu di hari keempatnya. Dia sedang ada di Bandung hari itu, sangat mendadak. Kami pergi hanya sebentar, dia hanya ingin mengantar aku pulang saja katanya dan sekalian mampir ke rumah temannya. Hari itu aku sampai skip kelas padahal hari itu ada test toefl yang masih harus aku selesaikan. Dia membelikan ku mcd, katanya sebagai balasan karena aku sudah mengantarnya membeli sesuatu di rumah temannya.
Di minggu yang sama, pada hari sabtu dia tidak membalas pesan ku selama hampir seminggu. Aku sangat sangat gundah, dan berfikir apa yang aku lakukan sampai dia tidak membaca pesan ku? Dalam kurun satu bulan yang aku ceritakan diatas, saat topik habis dia pasti selalu greet aku pagi harinya. Tapi sekarang tidak, dia mulai berubah. Kau tahu? mimpi ku setiap harinya punya pemeran utama yang sama, yaitu dia. Aku sampai capek saat bangun tidur, terheran-heran mengapa sampai tiap hari begini.
Kegundahan ku sampailah pada hari kemarin, aku sudah tidak kuat lagi dengan rasa penasaran ini. Aku memberanikan diri untuk chat dia duluan untuk pertama kalinya, sekalian ngetest dia apakah dia benar2 berubah atau ini hanya fikiran negatif ku saja..
Aku greet dia saat maghrib kukirim panggilan singkat "Kang", karena aku tahu dia paling aktif dari dari sore ke malam, kami masih basa-basi sampai tengah malam, dan dibalasnya pagi hari jam 8 lalu aku balas lagi jam 9 pagi. Kau tahu jam berapa dia balas pesan ku lagi? jam 7.30 malam. Hampir 12 jam lamanya. Pada sore hari saja aku sudah punya kesimpulan sendiri, dia benar-benar berubah. Entah apa yang terjadi.
Hari ini kebetulan kedua orang tua ku dan kakak ku sedang pergi. Sore hari saat aku sadar bahwa dia berubah, aku benar-benar sedih se sedih2nya. Aku mendengarkan lagu-lagu kunto aji di album mantra, aku menangis sejadi-jadinya, bukan hanya silent cry biasa tapi aku sampai sesegukan. Tahu bahwa seisi rumah kosong hanya ada kucing ku saja, aku keluarkan semua kesedihan ku melalui tangis itu, aku memeluk bonekaku seakan mendapat kehangatan dari seorang manusia. Aku meminta maaf kepada diri ku sendiri, aku minta maaf karena aku berekspektasi meskipun aku tahu aku tidak boleh melakukan hal itu. Saat pertama kali aku terus-terusan mendapat pesan dari nya, aku sungguh sangat takut. Aku bertanya kepada semua temanku, apa yang aku harus lakukan karena aku takut semua ini hanya berujung semu. Saat menyadari pada akhirnya ketakutan itu benar-benar terjadi, rasa kecewaku sudah tak terbendung lagi. Air mata terus menghujani pipi ini, sampai aku rasa mataku bengkak.
Dengan tangan yang gemetar dan rasa sesak di dada aku mematikan notifikasi ku semenjak sore hari, aku mute chat dari nya. Aku sudah 100% yakin pasti dia hanya membalas singkat pesan ku yang sudah ku kirim dari jam 9 pagi itu. Benar saja, saat malam harinya aku cek line ku, dia membalas jam 8 malam hanya dengan satu bubble. Semua ini terjadi, semua ketakutanku terjadi. Dia pergi, dia berubah. Rasa penasarannya terhadapku sudah menghilang begitu saja..
Selama aku diberi kesempatan untuk mengenalnya selama satu bulan, aku terus memantau akun twitternya, creepy memang. Tapi bukankah ini yang dilakukan semua wanita diluar sana? Dia selalu berinteraksi dengan seorang wanita yang terlihat seperti mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama. Avatar nya sungguh memesona, tak jarang aku lihat tweet wanita itu terlihat insecure karena penampilan nya. Saat dia terlihat SANGAT CANTIK. Beauty privileges, I HATE THAT. Wanita itu tak tahu daya tarik dia walaupun dia tidak melakukan apapun. Maaf aku emosi, aku marah, maaf. Tidak sepatut nya aku begini. Mungkin mereka berdua mempunyai masa lalu bersama, mungkin. Atau malah masih bersama.
Hari ini 13 Oktober 2019, aku terbangun jam 6.30 pagi karena bisingnya bacotan ayahku mengenai pemerintahan negara ini. Hari ini pula merupakan hari ke 2 bulan merah datang, saat bangun aku menghela napas panjang, seraya membuka whatsapp dan membalas pesan dari teman-temanku yang teramat baik yang memberikan aku nasihat dan kata-kata positif. Lagi. Aku menitihkan air mata mengingat apa yang terjadi kemarin sore, sampai saat ini aku masih banyak melamun. Melamun memikirkan mengapa semua ini bisa terjadi kepadaku. Disaat yang tidak tepat. Tahun keempat di kuliah, harus mencari judul usulan penelitian, dan 3 minggu lagi uts semester 7. Maaf jika aku mendramatisir cerita ini, tapi memang begini adanya.
Entah dia menjauh karena dia sadar aku mulai baper, atau entah rasa penasarannya kepadaku sudah hilang. Aku ingat januari kemarin dia bertanya kepada kaka tingkat ku, dia bertanya aku ini orang nya seperti apa. Lihatkan? aku mencoba menyambungkan titik-titik itu, berasumsi sampai kepalaku mau pecah.
Ada beberapa hal yang aku harap dia lakukan. Aku harap dia mengucapkann selamat tinggal, dan tidak bersikap tiba-tiba dingin. Aku harap dia mengatakan perasaannya kepadaku entah itu akan menyakitiku atau akan membuatku senang.
Dan harapan untukku, aku harap aku bisa bangun lagi lebih kuat dari hari kemarin, aku harap aku berpegang teguh pada prinsipku. Aku harap aku ingat bahwa aku berada di tingkat akhir yang harus pandai-pandai menjaga hatiku sendiri.
Yang terakhir, aku belum bisa yakin jika aku bisa menolak dia jika suatu hari dia membuka pintu itu lagi.
Komentar
Posting Komentar