pasrah aja
Aku masih inget, waktu psbb bandung sangat ketat saat bulan puasa. Aku hampir menangis setiap hari, waktu itu keadaan sangatlah sulit. Aku masih harus mengerjakan skripsiku di tengah pandemi, mencari inspirasi di kamar ku yang kecil dan sumpek. Kondisi dirumahku yang jarang sekali bisa damai, terlebih lagi aku tidak bisa bertemu teman-temanku untuk berdiskusi. Atau sekadar ke coffeshop pun tidak bisa. Tapi ada seseorang yang seakan menjadi obat di bulan itu. Ia tidak pernah lelah menanyakan keadaanku setiap harinya, kami selalu berbincang-bincang setelah sahur, and it was memorable.
Aku seperti diberi berkah yang amat besar bulan itu, dia datang benar-benar di waktu yang paling tepat. Akupun tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan skripsiku bila tidak ada dia. Bagaimana perasaan nya padaku, aku pun tak tahu. Tapi yang terpenting ia sudah menemaniku dimasa sulit itu sampai dengan aku akhirnya lulus menjadi sarjana. Alhamdulillah minggu kemarin aku sudah berterimakasih padanya.
Sampai saat ini, terhitung sudah hampir 5 bulan kami bertegur sapa di jendela chat WhatsApp. Aku pernah menemuinya sekali, tetapi hanya sebentar sekali. Perlahan aku mulai mengerti mengapa ia tidak mau menemuiku sejak awal. Dan aku sangat mengerti, keadaan yang sedang sulit saat ini membuat semua kelihatan tidak mungkin. Hanya dengan keajaiban agar kami bisa bersama.
Kami sempat beberapa kali berdebat tentang hal-hal yang harus diluruskan diantara kami, memang terdengar sudah seperti sepasang kekasih bukan? tapi kami hanyalah teman di dunia maya yang kebetulan membutuhkan satu sama lain. Semakin kesini, hubungan kami yang aneh ini semakin renggang. Lagi, ini semua dikarenakan keadaan. Keadaanya sedang berada di posisi tidak nyaman untuk mengizinkanku masuk ke kehidupannya, dan aku sangat sangat mengerti itu. Pada akhirnya aku hanya bisa berdoa untuk kami berdua, berdoa supaya kami bisa menggapai mimpi kami bersama.
Terkadang aku ingat betapa bedanya ia saat 4 bulan lalu dengan sekarang, ia yang selalu cheerful di chat, sekarang terlihat lebih diam. Banyak hal yang tidak kami sampaikan kepada satu sama lain, karena ya itu, kami hanyalah teman dunia maya yang saling bertukar sebagian cerita hidup kami. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bulan depan, atau bahkan esok hari. Aku sungguh tak tahu. Tapi aku hanya ingin yang terbaik untuk kami, yang terbaik untuk hubungan dan masa depan kami sebagai orang dewasa. Tidak bisa kupungkiri, selama aku main dating app dia yang paling bisa membuatku nyaman. Dia seperti mengisi kekuranganku, selalu mengingatkan ku benar-benar langsung pada titik lemahku. Aneh bukan? aku bertemunya di dunia yang maya, tapi aku menyayanginya dengan sungguh.
Riq, saat ini memang bukan waktu yang baik. Aku harap, aku dan kamu tidak pernah menyerah ya dalam memperjuangkan hidup kita masing-masing?
Aku di Bandung, dan kamu di Tanggerang.
Jarak tidak pernah berarti untuk kita bukan? Mau kamu di Bandung, ataupun di kota lain. Kita sama saja tetap hanya teman yang terbatas dibalik layar handphone.
Komentar
Posting Komentar