a crisis in twenty years old teenager

    Gelaran wisuda telah selesai seminggu yang lalu, banyak pengorbanan yang dilakukan akhirnya membuahkan hasil dengan terlaksananya wisuda gelombang II ini dengan sukses. Aku bertemu orang-orang yang pernah singgah di kehidupanku berbulan-bulan yang lalu. Aku memberi setangkai bunga mawar berwarna merah kepada si bangsat bergelar sarjana hukum. Dia tetap dia yang kukenal, dengan sebatang rokok di tangan kirinya, dan menjabat tanganku dengan tangan kanannya. Sekadar mengucapkan terimakasih dari bibirnya dan dengan mimik muka yang terkejut karena tiba-tiba hadir aku yang memberi bunga mawar. Aku sudah berjanji dulu bahwa saat dia wisuda aku akan memberikan bunga kepadanya.

M: Kamu kapan wisuda ?
A: Kayanya sih nanti, soalnya aku mau berusaha naikin IPK sampe 3
M: oh jadi agustus wisudanya ?
A: Kayanya sih iya
M: yaudah ntar kalo wisuda kasih tau ya, aku kasih bunga
A: *menatapku tersenyum dengan muka pevert nya*

       Ada seseorang yang aku kagumi di September 2018, aku bertemu masih pada gelaran pengenalan kampus. Paras nya bisa memikat para wanita karena dia terlihat tampan dan baik, tapi siapa sangka anak psikologi 2015 ini matanya tertuju padaku saat ia memasuki ruang pengenalan kampus yang aku mentori. Aku masih ingat bagaimana dia duduk di depan lift dan memainkan smartphone nya, dan terkaget melihat aku datang untuk menanyakan sesuatu. Aku masih ingat saat dia mengantarkan satu box makanan kepada ku dan temanku. Matanya tertuju padaku seakan yang lain tidak penting. Aku masih ingat bagaimana notif instagramku berbunyi, ada seseorang yang mem-follow instagramku. Itulah dia, anak tampan dari psikologi.
       Aku masih ingat bagaimana rasanya menunggu dia menyapaku terlebih dahulu di ruang obrolan, aku masih ingat bagaimana jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya saat aku melewati pelataran psikologi. Setahun yang lalu aku menunggunya untuk berbicara kepadaku terlebih dahulu, tapi itu tidak pernah terjadi, barulah sekarang terjadi. Rasanya sudah hambar, tetapi aku bersedia membuka hatiku kembali.
       Dan seminggu yang lalu dia sudah resmi menyandang gelar sarjana psikologi, dulu aku berkata "tapi dia lulus sebentar lagi, aku harus bergerak dengan cepat". Ya dia benar lulus seminggu yang lalu, dan tidak ada yang terjadi antara rentang waktu itu. Aku dengan jantungku yang berdetak tidak karuan, aku menghampiri lelaki dengan paras menawan dengan baju toganya yang bertemakan ungu karena itulah warna fakultas psikologi. Sembari berkata "Selamat wisuda ya!" lalu dia menjawab "Eh iya terimakasih! Semoga cepat menyusul ya!" Lalu aku melakukan high five yang canggung.
         Dia bukan manusia agresif seperti si bangsat anak hukum, aku belum mengenalnya dengan baik. Dia terlihat mempunyai ketertarikan kepadaku tetapi pada saat yang sama dia tidak terlihat tertarik sama sekali. Aku sudah menemukan twitternya, disana banyak tweet yang bisa menunjukkan bahwa dia adalah penggemar berat club sepak bola Ibu Kota Jawa Barat. Juga dapat dilihat bahwa dia sering membalas dan mendapatkan mention dari wanita yang avatar nya terlihat sangat gorgeous. 
    
Aku sudah lelah dengan semua pengharapan ini, aku benar-benar tidak bisa melewati kesedihan yang baru. Aku ingin berhenti.

Komentar