daydreamer

    Bertahun-tahun tenggelam dalam lamunan, seringkali lupa diri bahwa masih ada dunia nyata yang harus di hadapi. Bisa dikatakan jika aku menyukai seseorang, aku bisa sampai obsessed. Bukan obsesi yang creepy, tetapi obsesi yang menyiksa diri sendiri. Post ini akan menjadi hasil dari khayalan terbesarku selama ini, seems creepy but not really. Just assume this is a fiction, the person exist in real life but I never get to know them at all, I didn't got a chance. I never knew them in person and their personalities always remain a mystery, so myself develop ideas about their personality just by seeing their expression in social media or just physically.




***

Hari itu Bandung sedang bersahabat, cuaca indah tak terasa panas ataupun terlalu dingin menembus pakaian. Gedung perkuliahan di kelilingi pohon yang rimbun menambah suasana nyaman bagi para pencari ilmu di sini. 

        Kelas pertama hari itu selesai pukul 10.30 dan kelas selanjutnya akan dimulai lagi pukul 02.00 di gedung perkuliahan yang berbeda. Mahasiswa-mahasiswa itu berbondong-bondong keluar kelas, ada yang mengeluh masih mengantuk, ada yang mengeluh kelaparan dan butuh asupan makanan sesegera mungkin. Aku tidak merasa begitu lapar dan juga mengantuk, tapi aku butuh tempat untuk berteduh dan mencatat kembali materi-materi perkuliahan ku minggu lalu. Iya, benar aku selalu menunda pekerjaan. Itu lah sebabnya catatan minggu lalu belum aku tulis sampai saat ini. 
         Setiap organisasi di kampus ku pasti mempunyai sekretariat, entah untuk berdiskusi ataupun hanya sekadar berkumpul. Aku sudah tahu dimana aku akan mencatat materi minggu lalu ini. Bukan, kau salah. Perpustakaan bukanlah tujuan ku, tempat dingin itu bukan tempat yang bagus untuk mencatat materi, bukannya catatanku selesai melainkan pulang dari perpustakaan hidungku akan menangis. Dan juga sebentar lagi perpustakaan tutup, jadi aku akan ke tempat sekretariat organisasi ku.
         Aku sudah bergabung dengan organisasi yang tidak bisa aku sebut namanya semenjak pertengahan 2017 lalu, yang artinya aku sudah hampir 2 tahun berjamur di sekretariat ini. Banyak yang sudah terjadi di tempat ini, amarah, diskusi tingkat intelek sampai hal bodoh, curi-curi pandang, dan candaan. Keluar masuk tempat ini sudah sangat hapal walaupun aku harus menutup mata, tetapi semenjak Februari lalu ada yang berbeda. Ada seseorang yang aku cari sebelum aku masuk ke tempat ini. Sekretariat kami tidak sendirian, kami punya 4 tetangga, antara lain anak-anak pertambangan, anak-anak jurnalis, anak-anak boxing, dan anak-anak choir. Kau sudah tau cerita ini akan mengarah kemana. Ada seseorang yang mencuri pandanganku, dan anehnya aku tidak bisa berhenti memikirkannya walaupun kami belum pernah berbicara, dan bahkan aku belum pernah melihatnya langsung secara dekat lebih dari 5 detik. Aneh kan? aku pun tak tahu mengapa semua ini terjadi. 
              Kulitnya cerah dibandingkan teman-teman disekitarnya, rambutnya melebihi telinga yang mana jika masih di sma tentunya ia akan dikejar-kejar oleh kesiswaan, tapi ini universitas dimana setiap orang punya hak untuk mengekspresikan dirinya, dari cara berpakaian dan gaya rambut. Perawakannya tinggi, dan tidak berisi alias kurus. Sering bermain gitar dan bernyayi di depan sekretariat organisasinya, sebuah rutinitas yang tidak aneh untuk anak paduan suara.

*Suara notif line berbunyi 3x*

Sedang menulis catatan yang baru aku tulis selama 45 dengan serius, tiba-tiba notif line ku berbunyi. Ada chat masuk dan aku bisa melihat isinya sepersekian detik di bagian atas smartphone ku. Notif line itu membuat anak kecil yang tidak kecil lagi dan sudah dewasa tapi belum terlalu dewasa untuk dipanggil dewasa tersenyum lebar. Untung disini hanya ada 2 adik tingkatku yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing terpaku dan membisu tak peduli dengan sekitarnya. Segera aku membuka aplikasi berwarna hijau itu.

11.35 AM

Raqi: Di sekre ya ?
Raqi: Aku liat sepatu kamu
Raqi: Aku disekre juga, kamu kelas jam berapa tadi ?

Jika kau pernah merasakan ada kupu-kupu berterbangan di perut, ini adalah hal yang sama yang sedang aku rasakan. Walaupun ada kupu-kupu di perut terdengar aneh, tapi kalimat itulah yang pantas menjelaskan perasaanku sekarang

11.38 AM

Me: Iyaa hehe, ngapain kamu ke sekre juga ? Kelasnya udah ?
Me: Tadi aku keluar kelas jam 10.30

Sungguh, mencatat materi disini tidak membuat berjalan lancar, pikiranku melayang kemana-mana. 

11.45 AM

Tring..

Raqi: Aku gabuut haha, tadi ada kelas pagi jam 8

Terdengar diluar ada orang bersama-sama menyayikan lagu fourtwnty ntah judulnya apa aku lupa, tapi aku tau itu dia yang menyayikannya. 

11.50 AM

Me: Ganti dong lagunyaaaa haha

11.51 AM

Raqi: request lagu apa mbanyaa?

11.52 AM

Me: serah dehh yang enak pokoknya

11.55 AM

Raqi: siap bos!

Selang beberapa menit terdengar lantunan lagu syahdu dari band yang terkenal, yang vokalisnya kebetulan lulusan dari kampusku, judul lagunya terlalu tinggi.

Aku lupa tadi aku janji mau makan siang bareng dengan teman yang lain, aku buru-buru mengemas barang-barang dan aku sengaja pulang melewati sekumpulan orang yang sedang bernyayi, padahal ada 2 jalan pulang yang satu lagi, tetapi aku melewati anak-anak tambang yang sedang membicarakan tugasnya. Mataku tertuju pada lelaki dengan rambut diikat kebelakang dan dengan kulit putihnya yang mencolok. Mata kami bertemu, aku ulang sekali lagi. Mata kami bertemu.

R: Hey! Mau kemana? kok pulang lagi ?
M: Gak pulang kok mau makan bareng temen *senyum tidak terkontrol*
R: Oh yaudah sana gih ati-ati ya!
M: Iya byee!

Setelah berjalan 5 langkah terdengar sautan teman-temannya yang ricuh.

Hadeeeeuh bisa aja maneh Ra! Siapa atuh Ra kenalin! Anak sebelah geningan! hahahaha!

Lalu ia membalas dengan canda nya

Naon sih mararaneh gandeng, geus nyayi weh deui!!

    Aku tersenyum dalam hati, karena aku takut ada yang melihat. Khususnya tukang parkir yang sering diam di jalan yang akan aku lewati.
    Beginilah aku, interaksi yang minim bisa membuat ku tersenyum dan malah membuat hari-hari ini semakin cerah walau mungkin hujan besar sampai banyak geluduk pun hari ku masih cerah karenanya. Interaksi kami sangat minim, chat pun jarang. Tidak pernah bermakna. Dan artinya tak boleh berharap banyak. Tapi aku bersyukur kehadirannya mengisi hari-hariku di semester akhir yang membosankan ini. Terimakasih pelangi di siang bolong ku !





***

LOL this is really laughable, this moment was inspired by real event. But we are stranger anyway, there is no reason to greet each other and talking. We follow eachother account on instagram, but that is nothing more or less. In conlusion, this story is a plot that I want to live in. Please do not look at me with that miserable look fellas. 
In the hope someday migt come I will show this story that I made to him. Wish that could happen in near future. Finger crossed!

CIAO









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hello 2021

Message From The Future

same shit everyday