senioritas
Aku hanyalah seorang maba, dan sekarang masih dicap sebagai maba. Semester satu memang sudah berakhir kemarin dengan bahagianya. Tapi tahukah kamu betapa takutnya aku saat memasuki kuliah? bukan karena pelajaran yang harus aku hadapi, tapi karena ospeknya. Aku tidak pernah menyangka akan melewati masa ospek yang sama sekali tidak aku ingin ulang. Dari smp aku terheran-heran bagaimana aku akan melewati ospek kuliah ku nanti? Dari dulu nama ospek selalu di sangkut pautkan dengan hal-hal yang aneh. Tradisi yang selalu ada dan melekat di masyarakat sehingga menganggapnya wajar. Mari kita jujur pada diri kita sendiri, apakah semua ini wajar? apakah bukannya seharusnya kita ini menghentikan tradisi ini? Memarah-marahi anak baru yang baru memasuki lingkungan baru. Bagaimana jika ia pun tidak suka dengan lingkungan baru-nya dan ditambah dengan percobaan mental itu? Apakah tidak pernah sejauh ini untuk difikirkan ?
"Kamu ospek gimana? dimarah-marahin ?"
pertanyaan itu selalu aku tanyakan kesemua teman-ku, dan heran nya semua nya menjawab
"Gausah ditanya juga pasti ada"
and boom, just Why? I'm wondering every second of my senior yelling at us, it's for our sake they said. For our sake? what the freaking for our sake?
Memarah-marahi tidak membuat mental seseorang kuat, tangguh, dan bahkan jadi pintar. Ingin disegani ? Buat lah prestasi yang membuat kau terpandang, bukan hanya title "gue-lahir-duluan-lo-harus-hormat"
Sampai saat ini aku masih mempunyai setitik dendam kepada orang-orang yang memarahi kami. Untuk apa sih ? itu satu-satu nya pertanyaan ku saat teringat tradisi aneh di negeri ini. Dan hanya satu jawaban orang-orang yang membuat tambah aneh "udah biasa lah, yang 'gitu' pasti ada" like omaga man someone must change the way this whole nation think about seniority.
"Kamu ospek gimana? dimarah-marahin ?"
pertanyaan itu selalu aku tanyakan kesemua teman-ku, dan heran nya semua nya menjawab
"Gausah ditanya juga pasti ada"
and boom, just Why? I'm wondering every second of my senior yelling at us, it's for our sake they said. For our sake? what the freaking for our sake?
Memarah-marahi tidak membuat mental seseorang kuat, tangguh, dan bahkan jadi pintar. Ingin disegani ? Buat lah prestasi yang membuat kau terpandang, bukan hanya title "gue-lahir-duluan-lo-harus-hormat"
Sampai saat ini aku masih mempunyai setitik dendam kepada orang-orang yang memarahi kami. Untuk apa sih ? itu satu-satu nya pertanyaan ku saat teringat tradisi aneh di negeri ini. Dan hanya satu jawaban orang-orang yang membuat tambah aneh "udah biasa lah, yang 'gitu' pasti ada" like omaga man someone must change the way this whole nation think about seniority.
Komentar
Posting Komentar