Pelangiku
sebenernya ini tugas bahasa indonesia. Cerpen gajelas banget, tapi namanya aku ganti sama kpop idols. Hope you enjoy
Pelangiku
Oleh: Mawar Salma Aziza
Kelas ini terasa hampa tanpa kehadiran nya.
Sosoknya yang begitu menawan dan mempesona tak terlihat hari ini oleh kedua
bola mataku. Hampa bagaikan motor tanpa bensin. Bagaikan anak ayam yang
ditinggal Ibunya. Tak ada tenaga atau pun semangat. Aku duduk di kursi paling
belakang sembari melihat perempuan – perempuan centil dan yang katanya, nan
mempesona itu yang sangat menjijikan. Aku bukan seorang perempuan yang seperti
mereka, aku tak suka berbicara kotor seperti mereka dan, aku tak suka berdandan
menor seperti mereka. Aku benci kelas ini karena begitu bising dan menyebalkan,
entahlah aku sangat benci. Karna itu, hanyalah dia yang membuat hari-hari ku di
SMA Jeguk ini menjadi berwarna, seperti pelangi. Dia adalah Pelangiku...
Setengah tahun lalu, aku menginjakan
kakiku di kelas baru ini. Beruntung aku menemukan teman sebangku yang baik,
namanya Choi Seulri. Pertama kami memang canggung tetapi akhirnya kami seperti
perangko yang tidak bisa dilepaskan. Dan di saat yang sama, pada waktu itu aku
melihat sosok lelaki yang duduk di barisan paling ujung, aku menyimak guru Mandarin
ku yang sedang mengabsen kami, karena aku ingin tahu namanya...Dan akhirnya dia
mengacungkan tangan nya saat guru ku memanggil “Kim Jongin”, “dia tampan” gumamku dalam hati, hanya sekilas tetapi berbekas.
Aku benci pelajaran Fisika, tetapi aku
suka Kimia, Bahasa Inggris, Matematika. Hari ini waktunya mengumpulkan tugas
fisika yang banyak sekali bahkan lebih banyak dari koloni semut yang sedang
berjalan di tembok. Perempuan centil bernama Kim Seolhyun itu menghampiri ku dan berkata “ Soojung pinjem buku fisika
dong, aku belum ngerjain nih, ayolah jangan pelit “
Aku benci. Aku benci
sekali manusia dihadapan ku ini, bayangkan aku mengerjakan semalam suntuk dan
dia mau menyontekk?!. Sulli menyenggol sikut ku, mungkin maksud dia untuk
memberi tahu ku untuk memberikan buku ku dengan cepat sebelum aku dapat masalah
dengan perempuan centil ini. Aku
memberikan buku ku. Dia pergi,tanpa mengatakan sepatah katapun dari mulut nya.
Sungguh perempuan tak tahu terimakasih, gumamku.
Kelas usai hari ini, aku berjalan
lunglai tak berdaya bersama Sulli keluar
dari kelas. “Kamu kenapa sih?” tanya Sulli, “Pasti kamu taulah kenapa”, “Oh! Jongin kan ga masuk hari ini dia izin hahah, gara gara itu kamu murung gini?”
balas Sulli mengejek, “Ughhhh” Jawab ku sambil tertunduk sebal dan malu. Aku heran kepada
diriku sendiri, mengapa aku semurung ini Sehun tak masuk sekolah. Rasannya saat
melihat sosok lelaki itu , aku seperti handphone yang di charge kembali, ada
aura terang dan indah di dirinya mungkin.
****
Matahari mulai bangun dari tidurnya,
menggantikan sang purnama yang menerangi gelap nya malam. Angin menusuk tulangku. Aku berjalan dikoridor
sekolah, lagi dengan wajah murung ku. Mrs. Song Hye Gyo, wali kelasku berpapasan dengan
ku, aku tersenyum padanya, aih cantik nya guru ku ini sudah baik pintar,
cantik lagi , gumamku. Kelas 2-5 masih jauh, pundak ku serasa seperti mau
copot menggendong tas ku ini. Tiba-tiba seseorang menghampiri ku dengan secepat
kilat dan langsung berada di samping ku. “Anyeong Soojung “ suaranya sangat aku kenal, suara yang cukup dalam bagi seorang lelaki, suara yang kusukai sekali, ya ternyata itu dia “anyeong Jongin-ah” balasku sembari menyunggingkan senyumku yang canggung karena kaget bukan kepalang,
bagaimana dia bisa seakrab ini?!! Gumamku didalam hati. Jantungku berdetak
secepat suara sepatu kuda yang sedang berlari, parasnya yang tampan tidak jauh beda dengan Johnny Depp idolaku. Dia berbicara dengan ku, mimpi
apa semalam aku ini. Jongin berlajan duluan di depan ku, dia membalas senyumku tadi, betapa indah nya senyum nya, bagaikan racun yang membuat tubuhku lunglai. Jongin sudah beberapa langkah didepan ku, ia berjalan cepat sekali. Sampai aku di kelas, Jongin sudah dengan manis nya membaca komik kesukaannya, dan tidak lupa dengan earphone nya, yang membuatnya sangat maskulin. Selagi aku menatapnya, aku tersenyum lagi tanpa kusadari, dang it krys why you even smiling, dalam hatiku bergumam.
Pelajaran pertama, kelas Bahasa Inggris Mrs Song Hye Gyo, Aku suka ini. “Now I will make
you a group, each group just have 4 person, then I will give you a task” “Yes ma’am” Jawab seisi kelas. Sama
seperti guru yang lain Mrs Song Hye Gyo mengacak nama kami saat membuat kelompok. Dan
pada saat nya nama ku dipanggil “Jung Soojung, Kim Jongin...” Jantung ku terbang ke awan,
perutku seperti ada kupu-kupu yang terbang, Tapi tunggu.. tunggu! APA?! “Jung Soojung, Kim Jongim, Kim Seolhyun, Kim Yura” Sebut Mrs. Song Hye Gyo dan langsung melanjutkan ke kelompok yang lain.
“Sial!” Gumamku dalam hati, apa daya aku tak mau mengubah kelompok ku karena
sekarang aku sedang duduk bersebelahan bersama dia, pelangiku... Kim Jongin.
Dua orang yang sama centil itu hanya
diam memainkan handphone nya dan sambil berpura-pura membaca buku, menyebalkan
sekali untuk apa mereka datang ke sekolah jika hanya untuk memainkan smartphone
nya?. Beruntung ada Jongin disini. Aku tersenyum di dalam hatiku, dibandingkan
dengan Jongin bahasa Inggris ku lebih baik darinya, beruntung jadi aku bisa
mengajari nya, toh aku lahir di San Fransisco. Aku dan dia berbincang banyak, aku senang sekali, bak seorang
anak kecil yang diberi sekantung permen. “Eh
udah belom ?” Tanya si menyebalkan Kim Seolyun. “Udah tinggal dikumpulin” Balasku. Mereka dua pergi keluar kelas,
dan izin ke kamar mandi dan aku yakin mereka malah pergi ke kantin. Ya,
tertinggalah aku dan Jongin. Aku terdiam membeku seperti es batu, sampai Jongim memecah keheningan “soojung wae? keliatan banget
mukanya kesel, sebel sama mereka berdua ya ?” Tanya Jongin sambil menopang dagunya dengan satu tangan sembari menatapku. Tuhan tanganku dingin, Jongin menatapku! “
Hahah tau aja nih Jongin” balas ku tertawa malu. “Aku juga gasuka liat mereka santai banget jadi cewe, gaada rajin-rajin
nya”. Dari situ kami berbincang terus sampai bel istirahat berbunyi.
***
Seperti
pelangi yang dilahirkan di pangkuan cakrawala.
Seperti
pelangi yang setia menggantung di bawah kaki langit.
Biarkanlah
cintaku menyentuh hatimu.
Karena
cinta adalah pelangi. (ini aku ambil di ff nya sestal , tapi aku lupa ff yg mana)
Semester satu berlalu tanpa terasa,
sekarang aku sedang Ulangan Akhir. Oh! Ya! Sekarang aku lebih dekat dengan Jongin. Tapi
hanya sebatas teman biasa. Besok Ulangan Akhir mata pelajaran fisika, aku frustasi dan
trauma. Nilai Ulangan Akhir Fisika ku 50 semester kemarin! Aku menangis seharian di kamar
tanpa ada yang tahu tentunya. Jam berdetak menemani ku yang sedang memainkan hp
ku. Otakku menyuruhku bangkit dan membuka buku soal soal latihan fisika. Tapi
nyatanya aku susah bangkit, seperti ada bisikan setan yang tetap menyuruhku berleha-leha
di kasurku.
Jam
menunjukan pukul 11 Malam, aku akhirnya bangkit dan mulai mengerjakan soal soal
yang menyebalkan itu. “Duh apasih ini? Masa iya orang nendang bola
harus aku hitung waktu sampai ketanah nya!” Aku berbicara sendiri di tengah
malam yang sunyi ini. Tapi demi nilai ku aku rela masih terbangun sampai jam
segini, tepatnya pukul 02;00 subuh sekarang. Mataku sudah seperti mata panda di
china, aku menyelesaikan soal-soal itu dan aku berhasil melawan fisika itu!
Aku menulis status di line ku, mengirim
stiker karakter James yang sedang mengerjakan tugas-tugas nya. “Line!” ringtone
ku berbunyi, di layar ku terpampang nama lelaki itu dan pesan nya. “LINE: Kim Jong In: Soojungah belum tidur?”
Seketika tubuh ku membeku, tangan ku dingin sedingin kulkas, Sehun mengirim
pesan di Line ku! Dengan tangan yang super basah dan dingin aku membalasnya. “Ini harus masuk ke Guinnes World Record atau
Keajaiban dunia ke 8! Kalo Sulli tau pasti dia udah jerit-jerit!” Aku berbicara sendiri seperti orang yang kegirangan.
Dan perbincangan di Line itu berakhir
pada jam 03;25
“Jung Soo Jung : Eh Jongin, belum nih masih ngulik fisika. Kamu kenapa belum tidur juga?”
“Kim Jong In : Duh rajin
banget sih, Aku habis nonton bola”
“Jung Soo Jung : haha enggak biasa aja kok, iyadeh yang udah pinter fisika gausah belajar”
“Kim Jong In : udah kok tadi sore :p”
Ya, Oh Sehun dikenal sebagai master fisika dikelas, otaknya encer seperti
bubur ayam. Itu yang membuat aku lebih suka padanya.
"Jung Soo Jung : Ohh gitu, bagus deh kkkk”
“Kim Jong In : “Aku udah
ngantuk banget nih man mau tidur, kamu tidur sana gih udah mau subuh. Selamat
Tidur Krys!”
Tangan
ku lebih dingin dari sebelumnya, dia memanggil nama Inggris ku, Krystal. Padahal jarang sekali teman sekolah ku memanggil namaku dengan nama Inggrisku. Aku membaringkan tubuhku yang lelah sekali di
kasur. Senyuman ku yang berbentuk bulan sabit muncul dan kedua bola mata ku tak
berhenti menatap layar hp ku. Seorang Kim Jongin bilang selamat tidur untukku!
Ingin rasanya membalas “selamat tidur juga pelangiku” tapi apa daya mungkin dia akan
terheran-heran. Pada akhirnya aku membalas “selamat
tidur juga Jongin”
***
Pagi hari sebelum bel berbunyi aku
bercerita kepada teman terbaik ku Sulli, tentang Jongin mengirim pesan ke line
ku. Dengan senyum yang membuncah dari bibir nya ia erkata “Eheei Kotjimal?! Daebak!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Kok bisa?!?!?!!?!” Dia berteriak layaknya dihutan,
maklum lah kita perempuan tukang gosip.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti
bulan. Oh ya! Aku mendapat nilai 95 di ulangan fisika ku! Sungguh keajaiban !
tak sia-sia ternyata aku belajar sampai larut malam pada saat itu. Percaya tak
percaya aku sekelas dengan pelangiku lagi
di kelas 3-2, sayangnya aku harus berpisah dengan Sulli. Dan percaya tak
percayanya lagi si duo centil Seolhyun dan Yura tinggal kelas di kelas 2, aku harap mereka berdua berubah dan
mengambil hikmahnya. Hebatnya, aku dan Jongin lebih dekat lagi daripada kelas 2
kemaren, mungkin teman sebayaku sering menyebutnya ‘friendzone’. Aku tak berharap lebih dari itu, karena memang kami
masih harus fokus dengan ujian masuk kuliah mendatang, dan aku yakin pelangi ku tak
akan pernah pergi dari hadapanku. Dan aku percaya Tuhan sudah menggaris kan pelangi-ku untukku!
Komentar
Posting Komentar